Sudah Waktunya Memanusiakan Karyawan

Kalo diliat dari sejarahnya, strategi bisnis terlalu fokus sama yang namanya produksi dan profit. Sedangkan karyawan yang seharusnya jadi aset berharga malah dianggap nggak terlalu penting atau sekedar alat yang digunakan untuk kelancaran bisnisnya. Miris ya?

 

Tapi, seiring berjalannya waktu dunia itu berubah. seperti yang dijelaskan oleh penulis Tim Leberecht,

 “kesadaran yang tumbuh yang entah bagaimana di tengah efisiensi, produktivitas, dan kemajuan karier, kemanusiaan kita telah hilang,” 

Kini, para manajer SDM (Sumber Daya Manusia) memiliki peran penting untuk memberdayakan para pekerjanya dengan cara yang lebih manusiawi.

Mereka memimpin tugas menuju pembangunan dunia kerja yang menyatukan strategi yang bertujuan untuk keberlangsungan bisnis dan hubungan yang terjalin secara baik dengan karyawan.

 

Posisi SDM untuk memanusiakan organisasi.

Para pengusaha yang budiman,

Karyawanmu adalah aset paling berharga di perusahaan.

Tanpa karyawan Kamu yang mengendalikan aktivitas bisnis, perusahaan Kamu tidak dapat berinovasi, tumbuh, atau berkembang. 

Departemen SDM, yang kebanyakan dipandang sebagai divisi yang sama sekali tidak produktif, padahal tugasnya berbeda.

Tugas utama departemen SDM seharusnya diarahkan untuk menurunkan resiko dan membatasi kerusakan yang berkaitan dengan personal masing masing karyawan dan memastikan mereka akan bekerja dengan nyaman. 

Sayangnya, tidak seperti departemen hukum, departemen sumber daya manusia telah menghabiskan banyak waktunya untuk memposisikan diri di mata manajemen teratas. 

SDM harus membuktikan kontribusinya sebagai dukungan personal, dengan menunjukkan kemampuannya untuk berpikir seperti inovator, memecahkan masalah yang kompleks, dan pada saat yang sama, tetap fokus pada orang-orang seperti  apa yang dibutuhkan perusahaan.

Dengan gerakan global yang berkembang untuk mendukung perhatian, kesejahteraan, dan kesejahteraan di tempat kerja, para pemimpin SDM saat ini diposisikan secara optimal untuk menunjukkan nilai dan manfaat bisnis dari memanusiakan organisasi.

Sumber daya manusia itu aset, bukan alat. Mereka patut mendapatkan perhatian eksekutif, dukungan, dan penghargaan.

 

Berikan Insentif yang Sesuai ! Jangan Pelit !

Orang-orang bukanlah mesin yang diminyaki. Sudah waktunya bagi setiap pemimpin bisnis untuk berhenti memikirkan mereka seperti itu. 

Saat ini, orang membutuhkan lebih dari kompensasi finansial untuk berkembang dalam lingkungan bisnis. Mereka juga butuh yang namanya kelonggaran waktu atau work life balance, kalau belum tau artinya, BACA! biar karyawannya ga pada turun kejalan ikut demo buruh. 

Memanusiakan suatu organisasi menciptakan insentif bagi kandidat terbaik untuk diterapkan, meningkatkan keterlibatan karyawan, dan mengembangkan rasa loyalitas dan eksklusivitas. 

Faktor-faktor ini secara langsung mempengaruhi hasil bisnis termasuk persepsi pelanggan, profitabilitas, dan posisi kompetitif. 

Agar organisasi dapat berkembang di pasar global modern, mereka membutuhkan keseimbangan antara bisnis dan sumber daya manusia.

 

Inget, Mereka itu ASET! 

Setiap langkah siklus hidup karyawan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan pengalaman di tempat kerja. Yang Berujung pada penilaian apakah tempat kerjanya sudah manusiawi atau belum.

Pemimpin SDM dapat memimpin dengan memberi contoh dan memfasilitasi interaksi yang berorientasi hubungan antara rekan kerja dan penyelia dengan:

 

  1. Berfokus pada detail.

Sesuatu yang sederhana seperti bagaimana karyawan baru mengucapkan namanya dapat memiliki efek mendalam pada pengalaman karyawan. 

Dorong anggota staf untuk menyambut dan mendukung satu sama lain di sepanjang jalan. 

Tim dan departemen tidak boleh merasa terisolasi atau tidak dapat berbicara secara terbuka dan jujur ​​selama hari kerja.

 

  1. Membuka saluran komunikasi.

Hirarki tradisional yang terlalu membatasi komunikasi antar karyawan dapat menutup pemikiran dan kegiatan inovatif. Kenapa?

Karena setiap karyawan merasa punya level dan akhirnya memandang kalau yang levelnya lebih rendah tidak pantas komunikasi dengannya kecuali dengan prosedur, ribet ya?

Sementara semua bisnis memerlukan beberapa tingkat struktur manajerial, pertimbangkan untuk menciptakan lebih banyak transparansi dalam proses komunikasi. 

Dorong karyawan untuk mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan dan menghindari praktik yang meremehkan atau mengasingkan karyawan karena berbicara. 

Dan ingat, kadang-kadang, ide-ide terbaik keluar dari mulut yang tak disangka sangka.

 

  1. Investasikan mereka dalam kegiatan belajar yang menyenangkan.

Beberapa karyawan memang senang membaca panduan yang panjang dan membosankan  karena terlalu banyak teksnya. Untuk pelatihan dan pendidikan buat upgrade skill, masih jarang.

Bukan karena mereka tidak mau, tapi kebanyakan karena kantor takut kali ya punya karyawan pinter dan kritis. 

Biarkan karyawan mengambil kepemilikan dalam pendidikan berkelanjutan mereka. Perusahaan sayang, karyawan pasti senang kok. 

 

  1. Dengarkan secara aktif.

Menyimak secara aktif adalah keterampilan yang hanya sedikit dimengerti oleh para profesional dan bahkan lebih sedikit latihan. 

Mendengarkan secara aktif berarti mendengarkan apa yang dikatakan seseorang, mengakui dan memvalidasi perspektif seseorang, dan merespons dengan komentar yang bijaksana dan mendukung yang menunjukkan pemahaman Kamu.

 

5. Seimbangkan hubungan personal dengan bisnis.

 

Berinvestasi pada orang adalah berinvestasi dalam kesuksesan organisasi, dan pasar global dewasa ini menuntut investasi itu. 

Pemimpin SDM dapat mengarahkan titik itu kembali dengan menggunakan strategi rekrutmen, pelatihan yang bermanfaat, 

atau hal lain untuk menunjukkan penghargaan atas kerja keras mereka yang mendorong keberhasilan di masa depan. 

Ketika lebih banyak organisasi mulai melihat pengembalian investasi yang terkait dengan memanusiakan karyawan, mereka akan mulai menerapkan cara yang lebih manusiawi untuk menunjang kelancaran bisnisnya.

 

Sudah waktunya memanusiakan karyawan, bukan memperbudaknya..,

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan