Mengenal Tokoh: Chairul Anwar

Chairil_Anwar_Kesusastraan_Indonesia_Modern_dalam_Kritik_dan_Essai_1_(1962)_p74

Chairul Anwar lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Beliau merupakan penyair terkemuka yang dimiliki Indonesia. Chairul Anwar juga orang yang mempelopori puisi modern di Indonesia untuk angkatan 45.

Bersama temannya Asrul Sani & Rivan Apin, dio dinobatkan sebagai pelopor angkatan 45 oleh H.B. Jassin. Karya sastranya banyak membuat pergerakan dan perubahan untuk Indonesia. Namun beliau sayangnya meninggal d usia muda dikarenakan penyakit yang dideritanya.

chairul anwar

Pendidikan Chairul Anwar

Chairul muda  bersekolah di Hollansch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Selepas sekolah dasar, Chairul melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Sayangnya, Chairul tidak menyelesaikan sekolah menengah pertama. Ia memutuskan untuk keluar sebelum lulus. Dari sini jugalah ia mulai menulis walaupun tak satupun puisi awalnya bisa ditemukan saat ini.

Walaupun tak lulus sekolah, Chairul menguasai tiga bahasa asing, bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman. Dia memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca puisi ternama karya pengaram internasional.

Karya Chairul Anwar Untuk Indonesia

Chairul mulai dikenal di dunia sastra setelah puisi yang berjudul Nisan di muat Pandi Pustaka. Puisi ini juga yang mendobrak cara berpuisi saat itu, bahkan ia diberikan julukan “Si Binatang Jalang” karena karyanya ini. Sajak-sajaknya menghembuskan jiwa, mengikir hawa & meruncingkan bangsa.

Salah satu jasa yang paling terkenal adalah membuat kalimat untuk poster perjuangan. Pada saat itu Presiden Soekarno mengaja seniman untuk membuat poster perjuangan. Pelukis Affandi dibantu Dullah yang melukis satu gambar laki-laki mengepalkan tangan.

Mereka sempat bingung kalimat apa yang cocok agar bisa menggugah bangsa. Kemudian mereka meminta saran ke Chairul Anwar yang memang sering mengunjungi Affandi. “Boeng, Ajo Boeng” muncul dari mulut Chairul Anwar dan dipakai sebagai poster kala tu.

Sejarah “Boeng, Ajo Boeng”

Seruan ini sampai terkenal di penjuru Indonesia. Bahkan panggilan “Bung” saat itu lekat pada mereka yang memposisikan diri menjadi pejuang revolusi. Mungkin sekarang kita sering juga mendengar orang berdebat dan saling memanggil dengan kata bung di televisi.

Ada cerita menarik dari slogan ini. Siapa yang sangka, jika kata penggugah semangat seluruh anak muda saat itu berasal dari bilik remang-remang di sekitaran Pasar Senen. Ketika ditanya inspirasi slogan ini darimana.

Chairul bercerita bahwa panggilan tersebut datang oleh wanita tuna susila yang bisa menjajakan diri ke pria yang lewat. Bung, sini bung… dengan nada genitny menggoda pria. Sontak semua seniman yang mendengar terbahak.

Bava Juga Kokologi Angka

Tidak ada yang menduga kalau slogan itu berasal dari bilik remang-remang. Tidak ada yang menyangka juga sebuah ata yang berasal dari tempat yang dianggap orang-orang paling hina. Menjelma menjadi sebutan kata revolusi paling mengelora sepanjang sejarang Indonnesia.

“Boeng, Ajo Boeng” Chairul Anwar

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan