Love Disorder: Gangguan Cinta Obsesif

1112

Banyak orang telah merasakan rasa sakit dari hati yang patah dan intensitas kegilaan. Cinta atau sering dikenal dengan love bisa menjadi perasaan gembira. Tapi di satu sisi juga bisa memicu kehancuran besar ketika orang lain tidak membalas perasaanmu.

Cinta obsesif membawa emosi ini menjadi lebih lanjut. Menyebabkan kamu untuk terfikasikan pada orang yang mereka cintai seolah-olah mereka adalah objek atau punya rasa kepemilikan. Bebera[a profesional kesehatan tidak mengakui secara luas obsesif cinta, atau “obsesif Love Disorder,” sebagai kondisi kesehatan mental.

Memang, saat ini tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Namun, cinta obsesif dapat menjadi tanda tantangan bagi kesehatan mental. Jika kamu yang mengalami perasaan cinta obsesif tidak menerima pengobatan untuk gejala keseluruhan yang di alami.

Kamu mungkin berjuang secara emosional untuk mengatur perasaamu. Dalam kasus yang sangat ekstrem, hal ini bahkan bisa memicu tindakan kekerasan atau pelecehan.

Cinta Obsesif VS Cinta Sejati

Cinta Obsesif VS Cinta Sejati
Cinta Obsesif VS Cinta Sejati

Definisi cinta sejati telah banyak di keluarkan oleh tokoh filsuf selama berabad-abad. Plato, aristoteles dan sebagainya pun tidak terlalu bisa membedakan mana cinta yang obsesif dan cinta sejati. Demikian juga, tidak ada satupun daftar kriteria psikologi yang bisa membedakan cinta obsesif dari cinta sejati.

Cinta adalah kekuatan ampuh. Orang dengan perasaan cinta membuat lebih banyak dopamin dan bahan kimia otak lainnya di dalam otak. Bagi sebagian orang, perasaan ini begitu kuat sehingga mereka menjadi terobsesi dengan menjaga dan mengendalikan orang yang mereka cintai.

Mereka mungkin muncul untuk menyembah pasangan mereka di suatu waktu, tetapi menjadi marah atau cemburu pada ancaman sedikitpun. Seperti pasangan dekat dengan orang lain. Salah satu ciri dari cinta obsesif adalah fokus pada pasangan sebagai objek untuk “konsumsi” atau di miliki.

Daripada mencintai orang dan menginginkan yang terbaik bagi mereka, orang dengan kecenderungan obsesif mungkin mencintai orang lain karena kebutuhan mereka sendiri. Memungkinkan bahwa mereka menunjukkan sedikit minat dalam kesejahteraan orang lain dan fokus pada kesejahteraan mereka saja secara emosional.

Faktor pembeda dari cinta obsesif

Faktor pembeda dari cinta obsesif
Faktor pembeda dari cinta obsesif

Cinta sejati membutuhkan kompromi dan negosiasi, sementara cinta obsesif menuntut bahwa objek atau pasangan mereka untuk tunduk kepada tuntutan mereka. Cinta sejati memprioritaskan kesejahteraan orang lain, sementara cinta obsesif mungkin melibatkan kekerasan fisik atau pelecehan emosional.

Cinta sejati melibatkan menerima orang lain dan mengakui kelemahan mereka. Cinta obsesif mungkin melibatkan penyembahan dan penolakan untuk mengakui setiap kekurangan. Hal ini terjadi ketika orang melihat objek cinta mereka sebagai makhluk yang sempurna setiap saat dan menjadi orang yang jahat ketika bertingkah sebaliknya.

Cinta obsesif membuat sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan pasangan mereka. Meskipun breakups biasanya menyakitkan dan dapat memicu perilaku yang tidak sehat. Orang dengan perasaan cinta obsesif dapat menolak untuk menerima bahwa hubungan telah berakhir.

Cinta obsesif terkadang melibatkan hubungan yang sebenarnya tidak ada, seperti selebriti atau orang asing.

Penyebab Obsesive Love Disorder

Penyebab Obsesive Love Disorder
Penyebab Obsesive Love Disorder

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan cinta obsesif. Bagian di bawah ini mendiskusikan faktor ini secara lebih terperinci.

  • Erotomania dan Delusional Disorder
  • Borderline Personality Disorder
  • Attachment Disorder
  • Trauma and Fear of Abandonment
  • Other Mental Health Conditions
  • Social and Cultur Norms

Baca juga cara mengobati pata hati.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan