Krisis Multidimensi topeng tersembunyi bangsa ini.

mass-1518843_1280

Anak 90an pasti tahu bahwa tahun 1997-2000 merupakan tahun kelam bagi rakyat Indonesia. Tahun terpahit yang penuh krisis politik, ekonomi, politik dan hukum atau sering disebut krisis multidimensi. Krisis yang membuka topeng ke semua bagian sampai ke hal yang paling tersembunyi.

Rasa putus asa dan sinis yang penuh dengan emosional menjadi sindiran bagi seluruh negeri seolah-olah tidak ada lagi nasionalisme, heroism, keadilan, persatuan bahkan hingga kebanggan. Nasionalisme terdegradasi. Konflik antaretnik, antaragama meningkat dikalangan saintis abad 20 mereka menyebutnya Chaos.

Rasa superior mayoritas dan inferior minoritas jelas masih terlihat terutama untuk etnis Tionghoa. Semenjak reformasi, mereka menjadi target sasaran kekerasan oleh oknum untuk dihancurkan. Lalu bagaimana caranya menumbuhkan kembali nasionalisme bangsa ini dan menghancurkan krisis multidimensi? CINTA.

Perkuat Cinta, tumbuhkan rasa cinta akan negara salah satunya dengan mengurangi stigma akan mayoritas dan minoritas. Kaum Tionghoa yang paling tahu bagaimana rasanya, semenjak reformasi mereka menjadi tsrget sasaran kekerasan oleh oknum-oknum untuk dihancurkan.

Stigma dalam krisis multidimensi

Kurangi stigma dan pola pikir mereka perlahan akan terbentuk sehingga untuk ”disetir“ akan jauh lebih sulit. Memupuk dan mempertahankan rasa nasionalis mereka menjadi poin utama. Bagaimanapun Tionghoa merupakan bagian dari Indonesia.

Indonesia terbentuk dari banyak budaya, Bahasa sampai etnis dan itu yang menjadikannya berbeda dengan negara lain. Selama kamu lahir dan besar di Indonesia, kamu merupakan bagian dari Indonesia itu sendiri.

Bayangkan saja, jika kamu berada di posisi sebagai kaum mayoritas dan dianggap sebagai etnis yang dianggap “lebih baik” sehingga mempermudah kita mendapatkan fasilitas seperti Kesehatan, Pendidikan dan fasilitas lain yang mendukung kesejahteraan kehidupan.

Lalu kamu mempunyai teman dari kaum minoritas dan menjadi bagian dari kaum tersebut. Pasti kita sendiri akan merasakan perbedaan sikap dari lingkungan. Karena kita tau bagaimana kaum yang dianggap “lebih baik” tadi menganggap kaum minoritas ini.

Pada akhirnya, ketika kamu bergabung ke grup minoritas, kamu akan merasakan hal seperti perbedaan sikap dan rasa kurang diterima dibanding sebelum kamu mengenal teman dari kaum minoritas. Hal tersebut membuat rasa kurang nyaman dan akhirnya kamu ditempatkan pada pilihan.

Baca Juga Cara Hidup Bahagia

Apakah aku harus menengahkan pemikiran para kaum mayoritas yang aku kenal tentang kenapa aku nyaman berteman dengan kaum minoritas, atau aku harus meninggalkan temanku yang berasal dari kaum minoritas?

Hal ini membuat kita berfikir, sebesar apa rasa nasionalisme yang ada pada diri kita. Dengan kita ikut membedakan etnis, tidak dengan bijak kita membuat pemikiran rasis tersebut terhenti di generasi saat ini.

Tetapi dengan kita membantu menjelaskan bahwa kita sama sama Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, maka dari situ tingkat nasionalisme pada diri kita lebih tinggi dari orang lain.

Lalu apa pilihanmu?

Menjelaskan kenapa kamu nyaman berteman dengan minoritas? Atau…

Kamu tinggalkan temanmu yang minoritas?

The choice is yours

 Author

Viniatry Utami, S.Psi.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan