Ketika Media Sosial Jadi Pembunuh Karakter

Bagaimana Media Sosial Membunuh Karakter Orang?

 

Situs media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sejenisnya memungkinkan kita untuk terhubung dengan para pengguna lainnya dari berbagai kalangan yang sangat beragam.

Tapi, ketika digunakan sembarangan, media sosial bisa menjadi platform berbahaya bagi para penggunanya untuk merusak reputasi seseorang.

Seperti yang kejadian belakangan ini di Indonesia, berbagai serangan di social media diarahkan ke para influencer untuk menjatuhkan reputasi mereka karena dinilai menyebarkan hal yang mengganggu public.

Itu versinya para netizen loh ya, terlepas dari benar atau tidaknya hujatan mereka ke para influencer,

lebih baik kita coba telusuri cara pengguna media sosial dapat menjadi pembunuh karakter yang sangat hebat, dan tips untuk mencegah atau setidaknya meminimalisir kejadian serupa..,

 

Kata-kata Kamu Dapat Kembali Menghantui Kamu

 

Apa pun yang Kamu katakan di dunia nyata dapat dengan cepat diposting di media social.

Hal apapun yang berkaitan dengan media sosial dapat membuat segala sesuatu menjadi viral dengan cepat. Yaitu, meledak ke internet untuk dilihat jutaan orang di Negara kita.

Jika Kamu membuat satu perkataan dan mengatakan hal yang salah, itu dapat dengan cepat menyebar ke media sosial seperti wabah dan menghancurkan reputasi Kamu, apalagi kalua kamu adalah seorang influencer dengan ribuan follower.

Kalau di luar negeri kasusnya yang cukup terkenal adalah kutipan dari Abercrombie dan CEO Fitch, Mike Jeffries, ditemukan di media sosial.

Pada dasarnya, dia mengatakan bahwa dia hanya ingin orang-orang yang populer dan cantik mengenakan pakaiannya.

Roger Dooley melaporkan bahwa orang-orang di seluruh negeri mulai membuang pakaian Abercrombie mereka, bersumpah tidak akan pernah memakainya lagi.

Dia juga mengatakan bahwa penjualan turun 15 persen, yang oleh CEO menyalahkan kekurangan persediaan. Kebetulan? Siapa tahu.

Tetapi yang tidak Kamu ketahui tentang cobaan ini adalah bahwa Mike Jeffries benar-benar mengatakan hal-hal ini enam tahun yang lalu!

Itu adalah media sosial yang meledakkannya dan menyebarkannya seperti api.

Singkatnya, berhati-hatilah dengan apa yang Kamu katakan, baik di dalam maupun di luar Internet. Media sosial bisa menangkapnya, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Atau kalua di Indonesia, yaaah sudah banyak lah ya,. Jadi ga perlu disebutin disini lagi,. Oke?

 

Foto yang Tidak Pantas Tampilkan Gambar Buruk

Kamu sebaiknya berpikir dua kali tentang memposting foto-foto itu di halaman social media Kamu.

Kamu mungkin tertawa tentang saat-saat indah sekarang, tetapi tawa Kamu akan berhenti tiba-tiba begitu foto merusak nama baik Kamu.

Satu artikel melaporkan bagaimana seluruh kantor polisi di AS menghadapi rasa malu setelah seorang petugas memposting foto online.

Dalam foto tersebut, petugas mengizinkan empat gadis dalam bikini untuk berpose di atas mobil polisi selama mencuci mobil amal. Departemen kepolisian memecatnya.

Waspadai apa yang Kamu post di halaman Kamu dan apa yang dipost orang sekitarmu tentang kepribadianmu saat mereka sakit hati. Ini bisa membuat Kamu kehilangan reputasi personalmu.

 

Lalu, gimana nih cara penanganannya?

 

Pencegahan Lebih Baik Daripada Mengobati, PASTI!

Kamu perlu tahu bagaimana cara memerangi krisis yang sudah berkembang. Namun, pencegahan selalu lebih baik daripada penyembuhan.

Karena itu, perusahaan Kamu harus menyiapkan sistem manajemen reputasi online.

Tergantung pada industri dan karakter merek Kamu, mungkin berbeda. Ada beberapa aturan inti yang harus Kamu ikuti untuk menghindari situasi krisis di Internet:

 

  1. Lacak penyebutan media sosial tentang brand atau pribadimu. Tetap up to date dengan apa yang dikatakan tentangmu.

 

Media sosial menjadi saluran untuk membuat keluhan tentang layanan pelanggan yang buruk dan Kamu tidak dapat mengabaikan komentar tersebut.

 

Selalu beri tanggapan positif untuk mengumpulkan pendapat, baik yang negatif maupun positif, dan balas segera setelah Kamu menemukannya.

 

  1. Libatkan audiens Kamu di tingkat emosional. Tidak lagi mudah untuk membuat para audiensmu loyal.

Mereka bisa saja beralih ke influencer yang bagi mereka lebih menarik karena berhasil mendapatkan hatinya dan ada ikatan emosional.

Mereka perlu merasakan ikatan emosional untuk tetap loyal. Ketika Kamu membuat ikatan dengan audiens Kamu, mereka akan mempercayai Kamu dan mendukung Kamu jika ada krisis.

Tapi jangan terlalu lebay yaaa., please deh.

 

  1. Bekerja sama dengan influencer senior. Tidak ada cara yang lebih baik untuk meyakinkan orang tentang apa yang disampaikan olehnya.

 

Saat ini, konsumen lebih percaya pada blogger, vloggers, dan pemimpin opini lainnya. Jika Kamu memenangkan hati influencer senior, Kamu akan mendapatkan kunci untuk audiens yang lebih luas. (chief marketer)

 

Teknologi digital memperpendek jarak antara pengguna dengan pengguna lainnya. Sehingga sangat mudah bagi mereka untuk memberi pendapat tentang apa yang mereka lihat dan dengar.

Tapi, sayangnya ketika jarak sudah tak lagi jadi masalah untuk berkomunikasi, pembunuhan karakter pun semakin menjadi jadi..

sampai kapan sih?

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan