Hindari Polusi Udara Untuk Kesehatan Anak Anak

Anak Anak Bermain di Sawah

Hindari Polusi Udara Untuk Kesehatan Anak Anak

Mengurangi risiko kesehatan yang dipengaruhi oleh lingkungan dapat mencegah 1 dari 4 kematian yang rentan terjadi pada anak anak.

 

Menurut data dari WHO (World Health Organization), salah satu organisasi di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang menaungi permasalahan seputar kesehatan. Pada tahun 2012, WHO mendapatkan data sebanyak satu koma tujuh juta kematian pada anak balita disebabkan oleh factor lingkungan yang dinilai tidak higenis.

Ini termasuk lima ratus tujuh puluh ribu kematian akibat infeksi saluran pernapasan, tiga ratus enam puluh satu ribu kematian akibat diare, dua ratus tujuh puluh ribu kematian akibat kondisi neonatal, dua ratus ribu kematian akibat malaria dan dua ratus ribu kematian akibat cedera yang tidak disengaja.

Risiko lingkungan yang tidak higenis berdampak pada kesehatan dan perkembangan anak-anak, mulai dari pembuahan hingga masa kanak-kanak dan remaja dan juga hingga dewasa. Lingkungan menentukan masa depan anak: eksposur kehidupan dini berdampak pada kesehatan orang dewasa karena pemrograman janin dan pertumbuhan dini dapat diubah oleh faktor risiko lingkungan.

Kondisi lingkungan yang buruk dan polusi urdara adalah kontributor utama terjadinya penyakit yang berujung kematian pada anak anak di bawah umur, terutama di negara-negara berkembang.

Anak-anak sangat rentan terhadap risiko lingkungan tertentu, termasuk: polusi udara; air, sanitasi, dan kebersihan yang tidak memadai; bahan kimia berbahaya dan limbah, radiasi; perubahan iklim; serta ancaman yang muncul seperti e-waste.

Anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa terhadap risiko lingkungan:

  • Anak-anak terus tumbuh. Mereka menghirup lebih banyak udara, mengonsumsi lebih banyak makanan, dan minum lebih banyak air daripada orang dewasa, sebanding dengan berat badan mereka.
  • Sistem anak-anak masih berkembang. Ini termasuk sistem saraf pusat, kekebalan tubuh, reproduksi, dan pencernaan mereka. Pada tahap awal pengembangan tertentu, paparan racun lingkungan dapat menyebabkan kerusakan permanen.
  • Anak-anak berperilaku berbeda dari orang dewasa dan ini berarti ada berbagai cara mereka dapat terpapar risiko lingkungan. Misalnya, anak-anak kecil merangkak di tanah tempat mereka mungkin terkena debu dan bahan kimia yang menumpuk di lantai dan tanah.
  • Anak-anak memiliki sedikit kendali atas lingkungan mereka. Tidak seperti orang dewasa, mereka mungkin tidak menyadari risiko dan tidak dapat membuat pilihan untuk melindungi kesehatan mereka.
lingkungan yang sehat dan minim polusi udara akan menyehatkan anak dan memberi mereka ruang bermain yang lebih luas

 

Risiko lingkungan merupakan dua puluh lima persen dari beban penyakit pada anak balita. Masalah kesehatan anak-anak sering diakibatkan oleh paparan sejumlah faktor risiko lingkungan di tempat mereka tinggal, bekerja, bermain, dan belajar.

Hanya dengan mengadopsi pendekatan holistik terhadap faktor-faktor risiko lingkungan, kemajuan signifikan dapat dibuat dalam mengurangi beban penyakit lingkungan dalam skala global.

Pendekatan semacam itu berarti keterlibatan lintas sektor dan di semua tingkatan masyarakat termasuk individu, komunitas, kota, profesional layanan kesehatan, dan pembuat kebijakan.

Penyakit anak-anak yang terkait dengan faktor lingkungan merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang luar biasa.

Hal ini terutama berlaku di negara-negara berkembang dan masyarakat miskin, di mana seringkali ada kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang dampak bahaya lingkungan pada kesehatan anak-anak.

Untuk membantu mengatasi masalah ini, WHO menyiapkan informasi dan materi pelatihan dan mengimplementasikan kegiatan pelatihan.

Agar penyedia layanan kesehatan dapat mengidentifikasi dan mencegah penyakit masa kanak-kanak yang lebih baik terkait faktor-faktor risiko lingkungan. Para ahli dari negara maju dan berkembang telah terlibat dalam persiapan dan tinjauan ulang materi yang membahas topik lingkungan tertentu.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan