Ceritaku tentang prasangka

Prejudice

PrasangkaKamu baru saja mengalami hari yang buruk, sepulang dari tempat kerja beberapa pria melihat ke arahmu dengan tatpa nyang cukup lama. Mereka berbicara dengan bahasa batak dan nada yang keras sambil sesekali tersenyum dan melirikmu.

Sabtu malam itu kebetulan kamu memakai rok sebatas lutut, tatapanmu tajam ke mereka seketika dua orang dengan tato di pergelangan tangan itu berhenti melirikmu.

PraangkaUntunglah….sambil mengehala nafas panjang setelah keluar dari pintu kereta kamu berpikir baru saja kamu terleps dari kejadian yang mungkin membahayakan dirimu. Lalu apa yang terjadi dengan kedua pria bertato itu?

Mereka tampak kebingungan, kenapa kamu tiba-tiba semarah itu? Padahal kamu yang salah, duduk di kursi khusus penumpang disabilitas. Tapi kamu tidak sadar karena tanda untuk kursi khusus terlalu kecil dan ada dibelakang bahumu. Begitulah prasangka bisa terjadi.

Prasangka merupakan pemikiran negatif terhadap kelompok social dan anggotanya tanpa alasan maupun bukti yang cukup. Namun saat ini hampir semua manusia berprasangka. Orang kulit hitam di anggap jorok, kulit putih dianggap bodoh, orang pada dianggap pelit dan masih banyak lagi.

Maka, jika di Indonesia semua kelompok berprasangka. Maka alur yang akan ada di lingkungan sosial kita akan seperti ini. Muncul rasa takut – setiap kelompok saling menghindar – defense agar kelompoknya terlindungi – saling menjatuhkan agar ada superioritas demi membuktikan kehebatan secara nyata – ekstrimnya muncul perang saudara.

PrasangkaDalam kelompok mayoritas dan minoritas, biasanya selain banyaknya anggota kelompok, akan beda juga persepsi akan sesuatu. Jika kaum mayoritas berprasangka lebih besar terhadap kaum minoritas, maka akan sangat kecil kemungkinan keadilan yang akan di dapat kaum minoritas karena kalah jumlah anggota dan kekuatan suara.

Selain itu, tuntutan keadilan di tiap kaum pun akan berbeda. Misalnya minoritas akan berteriak : kami menerima ketidak adilan akan semua keputusan. Sedangkan mayoritas akan berteriak menjawab : kami telah melakukan semuanya demi keadilan dan kesejahteraan kita Bersama.

Baca Juga Cara Gampang hadapi Isu Kesehatan Mental

Hal tersebut dikarenakan adanya bias dalam prasangka dan perbedaan tingkat keadilan yang dimaksud tiap kelompok

In my opinion, there is 7 ways to build cross cultural relationship:

  • be a good listener
  • be sensitive to the needs
  • be cooperative rather than overly competitive
  • advocate inclusive
  • compromise rather than dominate
  • build rapport
  • be compassionate

“Do not let your assumptions about a culture block your ability to perceive the individual, or you will fail.”
― Brandon Sanderson, Words of Radiance

Author : Viniatry utami, S.Psi.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan