Bagaimana Musik Mensinkronisasikan Otak

musik

Ed Large adalah seorang psikolog musik di University of Connecticut. Beliau setuju bahwa musik merelease emosi yang kuat. Studinya melihat bagaimana variasi dalam dinamika musik-memperlambat atau mempercepat irama, atau suara yang lebih lembut dan keras meresonisasi di dalam otak, mempengaruhi kenikmatan seseorang dan merespon secara emosional.

Studi tentang musik dan otak

musik

Dalam satu studi, large dan rekan kerjanya mempunyai peserta penelitian yang telah mendengarkan salah satu dari dua variasi potongan musik yang diciptakan Chopin. Dalam versi satu, potongan itu dimainkan seperti biasanya dengan variasi dinamis.

Sementara di versi dua, potongan dimainkan secara mekanis, tanpa variasi ini. Ketika para peserta mendengarkan dua versi sementara dihubungkan ke sebuah mesin fMRI, Pusat kesenangan mereka menyala selama momen dinamis dalam musik versi satu,

Tapi tidak menyala dalam versi dua. Seolah-olah lagu itu telah kehilangan resonansi emosional ketika kehilangan dinamika, meskipun “melodi” kedua musik sama. “Bahkan, ketika debriefing setelah percobaan selesai, Mereka bahkan tidak menyadari bahwa kami sedang memainkan sebuah lagu yang sama bagian,” kata Large.

Ketika memainkan versi yang lebih dinamis, Large juga mengamati aktivitas mirror neurons yang terlibat dalam kemampuan kita untuk mengalami internal apa yang kita amati secara eksternal. Neuron hilang lebih lambat dengan tempo lebih lambat, dan lebih cepat dengan tempo lebih cepat,

Hal ini menunjukkan bahwa mirror neurons mungkin memainkan peran penting dalam pengolahan dinamika musik dan mempengaruhi bagaimana kita mendengarkan sebuah lagu. “Irama dari sebuah lagu dapat langsung mempengaruhi irama otak kamu, dan irama otak bertanggung jawab untuk bagaimana kamu merasakan sesuatu pada saat tertentu,” kata Large.

Itu sebabnya ketika orang berkumpul dan mendengar lagu yang sama. Seperti di aula konser.  Penonton cenderung membuat otak mereka selaras dengan cara berirama, menginduksi pengalaman emosional bersama, kata Large.

Musik bekerja dalam banyak cara yang sama dengan bahasa tersendiri. Menggunakan kombinasi suara dan variasi dinamis untuk memberikan pemahaman tertentu dalam melihat pengalaman para pendengar.

Baca Juga 3 Kampus Aestetik

“Jika saya seorang musikus dan kamu seorang pendengar, dan apa yang aku mainkan sangat menggerakkanmu. Aku pada dasarnya telah menyinkronkan irama otak mu dengan aku,” kata Large. “Itulah cara aku berkomunikasi dengan mu.”

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Postingan Terkait

Tinggalkan Balasan